HUBUNGAN ANTARA AGAMA DAN SAINS
Oleh,
Nama
: Ayu Amalia
NIM : 1141420016
Prodi Teknik Kimia
INSTITUT TEKONOGI INDONESIA
Serpong, Tangerang Selatan
Januari 2015
BAB
I PENDAHULUAN
1.1
Latar
Belakang
Perkembangan
ilmu pengetahuan dan teknologi telah berjalan dengan demikian cepat. Sementara
itu, pemahaman yang terkait dengan pengembangan teknologi yang mendasarkan pada
keimanan berjalan lebih lambat. Para ilmuwan berargumentasi bahwa semua
penelitian dilakukan dengan langkah yang dapat dipertanggungjawabkan,
sebaliknya para agamawan lebih sibuk membicarakan persoalan akhirat dan
pesan-pesan moral, tidak heran jika selalu terjadi benturan antara ilmu pengetahuan
dan agama.
Sains dan agama merupakan dua entitas yang berbeda, namun keduanya
sama-sama memiliki peranan sangat penting dalam kehidupan manusia. Sains dan
islam merupakan bidang ilmu pengetahuan yang memiliki cara pandang yang berbeda
dalam menyikapi kehidupan masa kini. Namun disamping perbedaan teresebut masih
ada hubungan timbal-balik yang sangat dahsyat apabila diantara sains dan islam diintegrasikan
dengan pola yang baik. Dengan lahirnya agama, menjadikan umat manusia
memiliki iman yang menjadikan hidupnya lebih terarah, berkat agama pula telah
menjadikan manusia lebih beretika, bermoral dan beradab. Sementara sains yang
memberikan banyak pengetahuan kepada manusia, dengan semakin berkembangnya
sains akan memajukan dunia dengan berbagai penemuan yang gemilang serta
memberikan kemudahan fasilitas yang sangat menunjang keberlangsungan hidup
manusia.
Agama dan
ilmu sangatlah saling terkait karena orang yang banyak ilmunya apabila tanpa di
topang oleh agama semua ilmu tidak akan membawa kemaslahatan umat, sebagai
contoh negara- negara maju yang sangat gigih mendalami ilmu dan teknologi,
tetapi sering menjadi sumber pemicu terjadinya peperangan, begitupun juga orang
yang sangat sibuk dengan belajar agama ,tetapi tidak mau menggali ilmu dan
pengetahuan alam disekitar kita , maka akan mengalami kemunduran , sedangkan
untuk mencapai kebahgiaaan akhirat haruslah banyak berbut/beribadah dalam hal
untuk kemajuaan umat, apa jadinya apabila semua umat berkutik di ritualitas
saja, ini adalah suatu pertanyaan gambaran yang menyedihkan.
Seperti
halnya dengan ilmu dan filsafat, agama tidak hanya untuk agama, melainkan untuk
diterapkan dalam kehidupan dengan segala aspeknya. Pengetahuan dan kebenaran
agama yang berisikan kepercayaan dan nilai- nilai dalam kehidupan, dapat
dijadikan sumber dalam menentukan tujuan dan pandangan hidup manusia, dan
sampai kepada prilaku manuisitu sendiri.
Agama
berbeda dengan sains dan filsafat karena agama menekankan keterlibatan pribadi,
walaupun kita dapat sepakat tidak ada definisi agama yang dapat diterima secara
universal. Kemajuan spritual manusia dapat diukur dengan tinggi nilai yang tak
terbatas yang ia berikan kepada objek yang ia sembah. Seorang yang religius
merasakan adanya kewajiban yang tak bersyarat terhadap zat yang ia anggap
sebagai sumber yang tertinggi bagi kepribadian dan kebaikan.
Wilayah ilmu
berbeda dengan wilayah agama. Jangankan ilmu, akal saja tidak sanggup mengadili
agama. Para ulama sekalipun, meski mereka meyakini kebenaran yang dianut tetapi
tetap tidak berani mengklaim kebenaran yang dianutnya, oleh karena i-tu mereka
selalu menutup pendapatnya dengan kalimat wallohu a`lamu bissawab, bahwa hanya
allahlah yang lebih tahu mana yang benar. Agama berhubungan dengan tuhan, ilmu
berhubungan dengan alam, agama membersihkan hati, ilmu mencerdaskan otak, agama
diterima dengan iman, ilmu diterima dengan logika.
Meski
demikian, dalam sejarah manusia, ilmu dan agama selalu tarik menarik dan
berinteraksi satu sama lain. Terkadang antara keduanya akur, bekerjasama atau
sama-sama kerja, terkadang saling menyerang dan menghakimi sebagai sesat, agama
memandang ilmu sebagai sesat, ataupun sebaliknya. Namun, hubungan agama dan
sains bukanlah polemik yang baru-baru saja menggulir dalam dunia keilmuwan.
Konflik ini telah ada sejak beberapa abad yang lalu. Sejak pertengahan abad
ke-15 agama dan sains adalah dua esensi yang sangat berbeda dan bertentangan.
Bagaimana sekarang ini hubungan antara agama dan sains? Kemudian bagaimana
dengan islam dalam memandang sains? Dalam makalah ini akan dijelaskan secara
lebih rinci mengenai hubungan agama dengan sains, khususnya islam dalam memandang
sains.
1.2
Rumusan
Masalah
Masalah yang akan dibahas di makalah ini, yaitu :
1)
Apa yang dimaksud dengan agama dan
sains (teknologi) ?
2)
Apa saja Ciri – ciri dan manfaat
agama ataupun sains?
3)
Bagaimana Tipologi dan Paradigma
hubungan antara agama dengan sains dan teknologi?
4)
Bagaimana pandangan islam mengenai sains?
1.3
Tujuan
Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini, yaitu :
1)
Untuk memahami pengertian agama dan
sains (teknologi)
2)
Untuk memahami Ciri – ciri dan
manfaat agama ataupun sains
3)
Untuk memahami Tipologi dan
Paradigma hubungan antara agama dengan sains dan teknologi
4)
Untuk memahami Pandangan islam
mengenai sains
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Agama dan Sains
A.
Agama
Agama, sebenarnya apa yang dimaksud dengan agama? Menurut Kamus Besar
bahasa Indonesia agama merupakan Sistem atau kepercayaan kepada Tuhan, atau
juga disebut juga dewa atau nama lainnya. Sebagian orang apabila ditanya
tentang agama maka jawabannya adalah pegangan hidup yang dianutnya yang
memberikan kedamaian. Indonesia merupakan negara pluralitas dan salah satunya
dalam hal agama. Terdapat lebih dari 5 agama atau kepercayaan yang dianut oleh
masyarakat indonesia antara lain, Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha,
Konghucu, serta kepercayaan masyarakak (Animisme dan Dinamisme).
Pengertian tentang agama sangatlah banyak, namun Harun Nasution
mendefinisikan agama sebagai berikut:
a.
Pengakuan terhadap adanya hubungan
manusia dengan kekuatan gaib yang harus dipatuhi
b.
Pengakuan terhadap adanya kekuatan gaib
yang menguasai manusia.
c.
Mengikatkan diri pada suatu bentuka
hidup yang mengandung pengakuan pada suatu sumber yang berada diluar diri manusia yang
mempengaruhi perbuatan-perbuatan manusia.
d.
Kepercayaan pada suatu kekuatan gaib
yang menimbulkan cara hidup tertentu.
e.
Suatu sistem tingkah laku yang
berasal dari kekuatan gaib.
f.
Pengakuan terhadap adanya
kewajiban-kewajiban yang diyakini bersumber pada kekuatan yang gaib.
g.
Pemujaan terhadap kekuatan gaib yang timbul
dari perasaan lemahdan pesrasaan takut terhadap kekuatan misteriusyang terdapat
dalam alam sekitar manusia.
h.
Ajaran yang diwahyukan Tuhan kepada
manusia melalui seorang Rasul.
Dapat disimpulkan, agama adalah suatu sistem kepercayaan kepada Tuhan yang
dianut oleh sekelompok manusia dengan selalu mengadakan interaksi dengan-Nya.
Pokok pembahasan yang dibahas dalam agama adalah eksistensi Tuhan, manusia,
serta hubungan antara manusia dengan Tuhan.
Agama memang mengandung arti ikatan yang harus dipegang dan dipatuhi
manusia. Ikatan ini mempunyai penagruh besar sekali terhadap kehidupan manusia
sehari-hari. Ikatan itu berasal dari suatu kekuatan yang lebih tinngi dari
manusia.
Aktivitas agama itu sendiri mencakup kepada: ketaatan dan kecintaan
terhadap Tuhan, penerimaan wahyu yang supranatural, kepercayaan kepada jiwa,
kebaktian, pemisahan antara yang sakral dengan profane pengorbanan, perasaan
diosa dan menyesal serta pencarian keselamatan.
Agama tidak hanya sekedar agama, melainkan untuk diterapkan daam kehidupan
dan segala aspeknya. Dalam agama, harus ada perealisasian dalam kehidupan manusia
dengan mematuhi ajaran agama yang telah dianut manusia tersebut sehingga
manusia yang memang benar-benar mematuhi jaran agam akan mendapatkan balasannya
kelak nanti di akhirat. Pengetahuan dan kebenaran agama dapat dijadikan sumber
inspirasi untuk menyusun teori-teori dalam kehidupan. Pengetahuan dan kebenaran
agam a yang berisikan kepercayaan dan nilai-nilai dalamkehidupan, dapat
dijadikan sumber dalam menentukan tujuan dan paradigma hidup manusia, dan
sampai pada perilaku manusia itu sendiri.
a.
Ciri – Ciri Agama
Ciri-ciri
agama adalah sebagai berikut:
- Agama merupakan suatu sistem keimanan atau keyakinan terhadap sesuatu yang mutlak
- Agama merupakan satu sistem ritual atau peribadatan atau penyembahan
- Agama merupakan suatu sistem nilai (value system) atau sistem norma yang menjadi pola hubungan manusiawi antara sesama manusia.
- Agama memiliki kepercayaan terhadap hal-hal yang gaib, Maha Agung, dan pencipta alam semesta (Tuhan).
- Manusia melakukan hubungan dengan Tuhan dengan melakukan berbagai cara, seperti dengan mengadakan upacara-upacara ritual, pemujaan, pengabdian, ataupun do’a.
- Agama memiliki suatu ajaran yang harus di jalankan oleh setiap pemeluknya.
b. Manfaat
Agama
Menurut Hocking, agama merupakan obat dari kesukaran, dan kekhawatiran yang
dihadapi manusia , sekurang-kurangnya meringankan kehawatiran dari kesukaran
yang dialami manusia tersebut. Agama merupakan pernyataan pengharapan manusia
dalam dunia yang besar (jagat raya), karena ada jalan hidup yang benar yang
perlu ditemukan.
Tujuan akhir dari agama bagi manusia adalah mengembalikan manusia kepada
keadaan sebelum ia diciptakan, dan ini melibatkan upaya pencarian identitas dan
nasib terakhirnya, dengan melakukan perbuatan yang benar (amal shaleh).
Kemudian bagaimana dengan Islam? Dalam bahasa Arab, perkataan
"Islam" bermaksud "tunduk" atau "patuh". Jika
seorang Muslim ditanya, "Apakah itu Islam?", biasanya dia akan
menjawab, "Agama yang tunduk kepada Allah, satu-satu Tuhan yang
benar." Tidak hanya bermakna demikian, Islam adalah agama yang diturunkan
Allah yang memberikan keselamatan serta sebagai rahmat bagi seluruh alam yang
diturunkan melalui Nabi Muhammad saw yang memiliki kitab suci Al-qur’an sebagai
pedoman hidup.
Islam muncul dunia yang fana ini untuk memberikana solusi serta menjawab
permasalahan-permasalahan hidup dialami oleh manusia. Islam bukanlah satu
golongan, kepentingan kelompok tertentu ataupun kepentingan politik lainnya dan
juga Islam bukanlah semata-mata untuk umat Islam itu sendiri. Lebih dari itu,
Islam diturunkan oleh Allah dengan suatu visi dan misi, yaitu untuk menyebarkan
kebaikan dan keselamatan serta rahmat bagi seluruh alam.
وما ارسلنك ٳلا رحمۃ للعلمين ﴿١٠٧﴾
Dan Kami
tidak mengutus ngkau ( Muhammad) melainkan unutk (menjadi) rahmat bagi seluruh
alam. (QS Al-Anbiya [21] : 07)
Islam tidak hanya mengatur urusan pribadi, juga bukan sekedar mengatur
urusan ibadah ukhrawi. Islam telah menjadi way of life, pandangan
sekaligus pedoman hidup yang mengatur segala segi. Agama Islam menjadi
alternatif yang mampu mengatur segala permasalahan hidup manusia. Al-Qur’an
sebagai sumber sains dan pengetahuan spiritual. Al-Qur’an merupakan sumber
intelektualitas dan spiritualitas. Ia merupakan basis bukan hanya bagi agama
tetapi bagi semua jenis ilmu pengetahuan. Al-Qur’an bukan lah kitab sains
tetapi ia memberikan pengetahuan tentang prinsip-prinsip sains, yang selalu
dikaitkan dengan pengetahuan metafisik dan spiritual (Bakar, 1994 : 74).
B.
Sains
1. Pengertian
Sains
Kata sains berasal dari kata science, scienta, scine yang artinya
mengetahui. Dalam kata lain, sains adalah logos, sendi, atau ilmu. Sains
dapat diartikan sebagai ilmu pengetahuan yang bertujuan untuk mencari kebanaran
berdasarkan fakta atau fenomena alam (Sudjana, 2008 : 3-4). Sains yang dipahami
dalam arti sebagai pengetahuan obyektif, tersusun, dan teratur tentang tatanan
alam semesta. Sains pada wilayah yang sempit atau spesifik dapat dipahami
sebagai ilmu pengetahuan alam dan pada tataran yang luas dipahami sebagai
sagala macam disiplin ilmu pengetahuan.
Djojosoebagio, S (1995) sebagaimana dikutip oleh Sudjana (2008 : 4)
mengemukakan beberapa sifat-sifat sains antara lain ;
1.
Kumulatif,
artinya dinamis atau tidak statis karena selalu mencari tambahan ilmu mengingat
kebenaran bersifat sementara.
2.
Ekonomis
untuk penjelasan-penjelasan dan kaidah-kaidah yang kompleks., formulasinya
sederhana, susunannya ekonomis sehingga dipakai istilah pendek, simbol dan
formula.
3.
Dapat
dipercaya atau diandalkan untuk meramalkan sesuatu dan lebih baik hasilnya
daripada pekerjaan berdasarkan perkiraan saja.
4.
Mempunyai
daya cipta tentang sesuatu
5.
Dapat
diterapkan untuk menganalisis perilaku atau kejadian-kejadian alamiah.
Ciri-ciri
sains menurut Melsen (1994) yang dikutip oleh Sudjana (2008 : 4-5) dalam
buku yang sama antara lain ;
1.
Secara
metodis, harus mencapai suatu keseluruhan logika kolumer,
2.
Harus tanpa
pamrih,
3.
Universalisme,
4.
Objektifitas,
5.
Intersubjektifitas
6.
Progresif
2.
Manfaat Sains
Dalam kehidupan manusia sians
diidentikan dengan penelitian-penelitian yang memberikan manfaat yang sangat
besar dalam kehidupan manusia itu sendiri. Karena dengan adanya sains membuat
peradaban manusia menjadi lebih maju. Dengan munculnya teknologi membuat
manusia ingin lebih mengembangkan adanya teknologi tersebut dengan mengadakan
penelitian-penelitian demi kelangsungan hidup manusia yang lebih baik.
C.
Sains dan Agama
Sains dan agama, merupakan dua
entitas yang sama-sama telah mewarnai sejarah
kehidupan umat manusia. Sebab, keduanya telah berperan penting dalam membangun
peradaban. Dengan lahirnya agama,tidak saja telah menjadikan umat manusia memiliki iman,tapi hal lain yang tidak bisa dipandang sebelah mata adalah terbangunnya manusia yang beretika, bermoral dan beradab yang menjadi pandangan hidup bagi manusia dalam menjalani hidup di dunia.
kehidupan umat manusia. Sebab, keduanya telah berperan penting dalam membangun
peradaban. Dengan lahirnya agama,tidak saja telah menjadikan umat manusia memiliki iman,tapi hal lain yang tidak bisa dipandang sebelah mata adalah terbangunnya manusia yang beretika, bermoral dan beradab yang menjadi pandangan hidup bagi manusia dalam menjalani hidup di dunia.
Sementara sains dengan puncak
perkembangan yang telah dicapai, juga telah menjadikan kemajuan dunia dengan
berbagai penemuanyanggemilang.Tetapi, sepanjang sejarah ke hidupan umat manusia
itu pula, hubungan sains dan agama tak bisa dikata selalu harmonis. Dalam hal
ini akan dibahas lebih lanjut mengenai prsamaan dan perbedaan sain dan agama.
1.
Persamaan Agama dan Sains
Antara sains dan agama tentunya terdapat
persamaan-persamaan diantaranya:
v Keduanya
merupakan sumber atau wadah kebenaran (obyektifitas) atau bentuk pengetahuan.
v Sains
bertujuan mencari kebenaran tentang mikrikosmos (manusia), makrokosmos (alam),
dan eksistensi Tuhan atau Allah. Dan agam bertujuan untuk kebahagiaan ummat
manusia di dunia akhirat dengan menunjukkan kebenaran asasi dan mutlak itu.
Baik itu mengenai manusia alam maupun Tuhan atau Allah itu sendiri.
2. Perbedaan karakteristik agama dan sains :
|
No
|
Karakteristik
|
Agama
|
Sains
|
|
1
|
Sumber
|
Akal, rasio, Ro’yu
|
Wahyu (Alqur’an dan Hadist)
|
|
2
|
Obyek
|
fisik, sebab-akibat, kausalitas
|
makna (meaning), nilai (values),
moral: baik-buruk, pahala-dosa, surga-neraka
|
|
3
|
Pertanyaan
|
how (bagaimana)
|
why (mengapa)
|
|
4
|
Sifat
|
tertutup, menginformasikan, menjelaskan
|
terbuka, mengungkapkan, mereformasi
|
|
5
|
Karakter
|
metrical, terukur dg ‘angka’
|
non-metrical
|
|
6
|
Isi
|
logika, teoretik, kaidah, predicable à futuristic
|
iman, wahyu
|
|
7
|
Operasi
|
pengalaman, empiric, instrumentatif
|
sami’na wa atho’na, taken for granted
|
|
8
|
Keterlibatan
|
tidak, ‘penonton’
|
terlibat, pelaku
|
2.2 Tipologi Hubungan Sains dan Agama
Agama dan Sains tidak selamanya berada dalam pertentangan dan
ketidaksesuaian. Banyak kalangan yang berusaha mencari hubungan antara
keduanya. Sekelompok orang berpendapat agama tidak mengarahkan pada jalan yang
dikehendakinya dan agama juga tidak memaksakan sains untuk tunduk pada
kehendaknya. Kelompok lain berpandapat bahwa sains dan agama tidak akan pernah
dapat ditemukan, keduanya adalah entitas yang berbeda dan berdiri sendiri,
memiliki wilayah yang terpisah baik dari segi objek formal-material, metode
penelitian, kriteria kebenaran, serta peran yang dimainkan.
Dalam mencermati konsep sains, Bruno Guiderdoni (2004:41) mengemukakan
pendapat yang disertai pula penalaran terhadap konsep agama. Dia membedakan
istilah sains dan agama dalam banyak definisi.
1. Bahwa sains menjawab pertanyaan “bagaimana”, sedangkan agama menjawab pertanyaan “mengapa”.
2. Sains berurusan dengan fakta, sedangkan agama berurusan dengan nilai atau makna.
3. Sains mendekati realitas secara analisis, sedangkan agama secara sintesis.
4. Sains merupakan upaya manusia untuk memahami alam semesta yang kemudian akan mempengaruhi cara hidup kita, tetapi tidak membuat kita menjadi manusia yang lebih baik. Sedangkan agama adalah pesan yang diberikan Tuhan untuk membantu manusia mengenal Tuhan dan mempersiapkan manusia untuk menghadap Tuhan.
1. Bahwa sains menjawab pertanyaan “bagaimana”, sedangkan agama menjawab pertanyaan “mengapa”.
2. Sains berurusan dengan fakta, sedangkan agama berurusan dengan nilai atau makna.
3. Sains mendekati realitas secara analisis, sedangkan agama secara sintesis.
4. Sains merupakan upaya manusia untuk memahami alam semesta yang kemudian akan mempengaruhi cara hidup kita, tetapi tidak membuat kita menjadi manusia yang lebih baik. Sedangkan agama adalah pesan yang diberikan Tuhan untuk membantu manusia mengenal Tuhan dan mempersiapkan manusia untuk menghadap Tuhan.
Oleh karena itu, Ian G. Barbour (2002:47) mencoba memetakan hubungan sains
dan agama dengan membuka kemungkinan interaksi di antara keduanya. Melalui
tipologi posisi perbincangan tentang hubungan sains dan agama, dia berusaha
menunjukkan keberagaman posisi yang dapat diambil berkenaan dengan hubungan
sains dan agama. Tipologi ini terdiri dari empat macam pandangan, yaitu:
1.Konflik
1.Konflik
Pandangan konflik ini mengemuka pada abad ke–19, dengan tokoh-tokohnya
seperti: Richard Dawkins, Francis Crick, Steven Pinker, serta Stephen Hawking.
Pandangan ini menempatkan sains dan agama dalam dua ekstrim yang saling
bertentangan. Bahwa sains dan agama memberikan pernyataan yang berlawanan
sehingga orang harus memilih salah satu di antara keduanya. Masing-masing
menghimpun penganut dengan mengambil posisi-posisi yang bersebrangan. Sains
menegasikan eksistensi agama, begitu juga sebaliknya. Keduanya hanya mengakui
keabsahan eksistensi masing-masing.
2.Independensi
2.Independensi
Baik agama maupun sains dianggap mempunyai kebenaran sendiri-sendiri yang
terpisah satu sama lain, sehingga bisa hidup berdampingan dengan damai.
Pemisahan wilayah ini dapat berdasarkan masalah yang dikaji, domain yang
dirujuk, dan metode yang digunakan. Mereka berpandangan bahwa sains berhubungan
dengan fakta, dan agama mencakup nilai-nilai. Dua domain yang terpisah ini
kemudian ditinjau dengan perbedaan bahasa dan fungsi masing-masing.
3.Dialog
3.Dialog
Pandangan ini menawarkan hubungan antara sains dan agama dengan interaksi
yang lebih konstruktif dari pada pandangan konflik dan independensi. Diakui
bahwa antara sains dan agama terdapat kesamaan yang bisa didialogkan, bahkan
bisa saling mendukung satu sama lain. Dialog yang dilakukan dalam membandingkan
sains dan agama adalah menekankan kemiripan dalam prediksi metode dan konsep.
Salah satu bentuk dialognya adalah dengan membandingkan metode sains dan agama
yang dapat menunjukkan kesamaan dan perbedaan.
4.Integrasi
Pandangan ini melahirkan hubungan yang lebih bersahabat dari pada
pendekatan dialog dengan mencari titik temu diantara sains dan agama. Bahkan
pemahaman tentang dunia yang diperoleh melalui sains diharapkan dapat
memperkaya pemahaman keagamaan bagi manusia yang beriman.
-
Tipologi versi John Haught (1995)
Menurut Haught, hubungan agama dan sains diawali dengan titik konflik
antara agama dan sains untuk mengurangi konflik, dilakaukan pemisahan
yang jelas batas-batas agama dan sains agar tampak kontras /
perbedaaan keduanya. Jika batas keduanya sudah terlihat, langkah berikutnya
adalah mengupayakan agar keduanya berdialog / kontak. Setelah
tahap ini dapat ditemukan kesamaan tujuan yaitu mencapai pemahaman yang benar
tentang alam, selanjutnya antara agama dan sains saling melengkapi / konfirmasi.
2.3
Paradigma Hubungan Agama dengan
Sains dan Teknologi
Secara garis besar, berdasarkan tinjauan ideologi yang
mendasari hubungan antara Agama dan Teknologi, terdapat 3 (tiga) jenis
paradigma.
1)
paradagima sekuler, yaitu paradigma
yang memandang agama dan IPTEK adalah terpisah satu sama lain. Sebab, dalam
ideologi sekularisme Barat, agama telah dipisahkan dari kehidupan (fashl al-din
an al-hayah). Agama tidak dinafikan eksistensinya, tapi hanya dibatasi perannya
dalam hubungan pribadi manusia dengan Tuhannya. Agama tidak mengatur kehidupan
umum/ publik. Paradigma ini memandang agama dan IPTEK tidak bisa mencampuri dan
mengintervensi yang lainnya. Agama dan IPTEK sama sekali terpisah baik secara
ontologis (berkaitan dengan pengertian atau hakikat sesuatu hal), epistemologis
(berkaitan dengan cara memperoleh pengetahuan), dan aksiologis (berkaitan
dengan cara menerapkan pengetahuan).
2)
Paradigma sosialis, yaitu paradigma
dari ideologi sosialisme yang menafikan eksistensi agama sama sekali. Agama itu
tidak ada, tidak ada hubungan dan kaitan apa pun dengan IPTEK. IPTEK bisa
berjalan secara independen dan lepas secara total dari agama. Paradigma ini
mirip dengan paradigma sekuler di atas, tapi lebih ekstrem. Dalam paradigma
sekuler, agama berfungsi secara sekularistik, yaitu tidak dinafikan keberadaannya,
tapi hanya dibatasi perannya dalam hubungan vertikal manusia-Tuhan. Sedang
dalam paradigma sosialis, agama dipandang secara ateistik, yaitu dianggap tidak
ada (in-exist) dan dibuang sama sekali dari kehidupan. Berdasarkan paradigma
sosialis ini, maka agama tidak ada sangkut pautnya sama sekali dengan IPTEK.
Seluruh bangunan ilmu pengetahuan dalam paradigma sosialis didasarkan pada ide
dasar materialisme, khususnya Materialisme Dialektis (Yahya Farghal, 1994:112).
Paham Materialisme Dialektis adalah paham yang memandang adanya keseluruhan
proses perubahan yang terjadi terus menerus melalui proses dialektika, yaitu
melalui pertentangan-pertentangan yang ada pada materi yang sudah mengandung
benih perkembanganitu sendiri.
3)
Paradigma Islam, yaitu paradigma
yang memandang bahwa agama adalah dasar dan pengatur kehidupan. Aqidah Islam
menjadi basis dari segala ilmu pengetahuan. Aqidah Islam yang terwujud dalam
apa-apa yang ada dalam Al-Qur`an dan Al-Hadits menjadi qaidah fikriyah
(landasan pemikiran), yaitu suatu asas yang di atasnya dibangun seluruh
bangunan pemikiran dan ilmu pengetahuan manusia. Paradigma ini memerintahkan
manusia untuk membangun segala pemikirannya berdasarkan Aqidah Islam, bukan
lepas dari aqidah itu.
Dengan jelas kita tahu bahwa Rasulullah SAW telah
meletakkan Aqidah Islam sebagai dasar ilmu pengetahuan, sebab beliau
menjelaskan, bahwa fenomena alam adalah tanda keberadaan dan kekuasaan Allah,
tidak ada hubungannya dengan nasib seseorang. Hal ini sesuai dengan aqidah
muslim yang tertera dalam Al-Qur`an (artinya): “Sesungguhnya dalam penciptaan
langit dan bumi dan silih bergantinya malam dan siang
terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang berakal”. (QS Ali
Imran [3]: 190). Inilah paradigma Islam yang menjadikan Aqidah Islam sebagai
dasar segala pengetahuan seorang muslim. Paradigma inilah yang telah mencetak
muslim-muslim yang taat dan shaleh tapi sekaligus cerdas dalam IPTEK. Itulah
hasil dan prestasi cemerlang dari paradigma Islam ini yang dapat dilihat pada
masa kejayaan IPTEK Dunia Islam antara tahun 700- 1400 M. Pada masa inilah
dikenal nama Jabir bin Hayyan (721 M) sebagai ahli kimia termasyhur,
Al-Khawarzmi (780 M) sebagai ahli matematika dan astronomi, Al-Battani
(858 M) sebagai ahli astronomi dan matematika, Al-Razi (884 M) sebagai pakar
kedokteran, ophtalmologi, dan kimia, Tsabit bin Qurrah (908 M) sebagai ahli
kedokteran dan teknik, dan masih banyak lagi
2.4
Pandangan Islam Mengenai Sains
Islam adalah agama yang sangat menganjurkan umatnya untuk mengerahkan
segala kemampuannya dalam menggunakan akalnya serta memikirkan segala apa yang
ada di alam semesta ini. Hal ini sebagaimana tercantum dalam ayat
Al-Qur’an surat Ar-Rahman ayat 33 yang artinya “Hai jama'ah jin dan manusia,
jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, Maka
lintasilah, kamu tidak dapat menembusnya kecuali dengan kekuatan”. Dalam ayat
tersebut Allah saw memberikan kesempatan kepada manusia untuk melakukan
pemikiran (menggunakan aklnya) dan eksplorasi terhadap alam semesta. Upaya
penaklukan ruang angkasa harus dilihat sebagai suatu ibadah manusia yang
ditujukan selain untuk memahami rahasia alam, juga demi masa depan kehidupan
manusia.
Menurut Muhammad Ismail sebagaimana dikutip oleh Sudjana (2008 : 12)
mengatakan bahwa pemahaman Islam tidak lain adalah pemikiran-pemikiran yang
memiliki penunjukan-penunjukan nyata, yang dapat ditangkap dengan logika selama
masih dalam batas jangkauan akalnya. Namun, bila hal-hal tersebut berada diluar
jangkauan akalnya, maka hal itu ditunjukan secara pasti oleh sesuatu yang dapat
diindera, tanpa rasa keraguan sedikitpun. Dengan demikian peranan akal bagi
manusia sangatlah penting dan mendasar karena dengan akalnya ia dapat
menentukan yang terbaik bagi dunia dan akhirantnya kelak.
Rasulullah saw pernah mengatakan bahwa tidak ada agama (Islam) tanpa adanya
aktifitas akal. Artinya bagi seorang muslim, keyakinannya tentang Islam
haruslah dibangun berdasarkan akal sehat dan penalarannya. Bukan hanya sekedar dogma
yang dipaksakan atau informasi-informasi tanpa kenyataan. Akan tetapi, akal
harus difungsikan sebagaimana mestinya (Sudjana, 2008 : 13).
2.5 Agama dan
Sains Sebagai Kebutuhan Manusia
Dalam pandangan positivisme atau materialisme, jika sains dan teknologi sudah
maju, maka masyarakat tidak membutuhkan agama lagi sebab semua kebutuhan dan
keinginan mereka sudah terpenuhi oleh sains dan tekhnilogi. Sepintas pernyataan
tersebut ada benarnya, tetapi jika di renungkan lebih dalam timbul persoalan. Kemajuan
sains dan tekhnologi dalam satu abad terakhir ini memang terasa sangat pesat.
Boleh di katakana bahwa 99% dari penduduk dunia sekarang telah menggunakan
tekhnologi modern. Mingkin hanya sebagian suku-suku terasing saja yang tidak
menggunakan tekhnologi modern.
Sains dan tekhnologi adalah daya akal manusia dan sekaligus kebutuhannya.
Namun, kalau manusia tenggelam dalam struktur sains dan tekhnologi, berarti
eksistensinya sebagai manusia bisa hilang. Jiwa manusia memiliki dua daya yaitu
daya akal dan daya hati. Daya akal di gunakan untuk mencapai ilmu pengetahuan
dan menemukan hal-hal yang baru. Sifat akal progresif dan cinta pada ilmu. Daya
berpikir adalah sifat yang paling penting bagi akal.
Pada dasarnya manusia ingin kebutuhan materinya cukup dan juga merasa sangat
puas dan bahagia dengan kecukupan itu. Agama mengajarkan pemeluknya agar selalu
bersyukur atas apa yang di terimanya sebab Tuhan itu maha pemurah dan
bikjaksana. Manusia terdiri atas dua unsur, yaitu jasmani dan rohani, secara
otomatis kedua unsur itu memiliki kebutuhan-kebutuhan tersendiri. Kebutuhan
jasmani di penuhi oleh sains dan tekhnologi, sedangkan kebutuhan rohani di
penuhi oleh agama dan moralitas. Apabila dua macam itu terpenuhi , menurut agama,
dia akan bahagia di dunia dan di akhirat.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
·
Agama adalah suatu sistem kepercayaan yang datangnya
dari Tuhan harus diterima dengan keyakinan, kebenaran disini akan menjadi
rujukan bagi kebenaran-kebenaran yang lain.
·
Agama dan ilmu sangatlah saling terkait karena orang
yang banyak ilmunya apabila tanpa di topang oleh agama semua ilmu tidak akan
membawa kemaslahatan umat
·
Sains dapat diartikan sebagai ilmu pengetahuan yang
bertujuan untuk mencari kebanaran berdasarkan fakta atau fenomena alam.
·
Sains dan agama merupakan dua entitas yang berbeda,
namun keduanya sama-sama memiliki peranan sangat penting dalam kehidupan
manusia
·
Agama dan
Sains tidak selamanya berada dalam pertentangan dan ketidaksesuaian. Banyak
ilmuwan yang berusaha mencari hubungan antara keduanya.
·
Ian G. Barbour mencoba memetakan hubungan sains dan
agama melalui Tipologi Sains dan agama. Tipologi ini terdiri dari empat macam
pandangan, yaitu: Konflik, Independensi, Dialog, dan Integrasi.
·
John Haught juga ikut memetakan hubungan sains dan
agama. Tipologinya terdiri dari empat macam pandangan yaitu : konflik, kontras,
kontak dan konfirmasi.
·
Islam adalah agama yang sangat menganjurkan umatnya
untuk mengerahkan segala kemampuannya dalam menggunakan akalnya serta
memikirkan segala apa yang ada di alam semesta ini.
·
Al-Qur’an
bukanlah kitab sains, tetapi segala pengetahuan tentang sains hendaknya
dirujukkan kedalam Al-Qur’an. Al-Qur’an secara eksplisit telah menerangkan
tentang segala apa yang ada dan terjadi dibumi ini dan dengan sains lah kita
membuktikannya
3.2 Referensi
(Sumber)










