Selasa, 26 Mei 2015

Hubungan Antara Agama dan Sains



TUGAS AGAMA DAN ETIKA
HUBUNGAN ANTARA AGAMA DAN SAINS













Oleh,
Nama                : Ayu Amalia
NIM                  : 1141420016


 Prodi Teknik Kimia
INSTITUT TEKONOGI INDONESIA
Serpong, Tangerang Selatan
Januari  2015



BAB I PENDAHULUAN

1.1            Latar Belakang
           Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi telah berjalan dengan demikian cepat. Sementara itu, pemahaman yang terkait dengan pengembangan teknologi yang mendasarkan pada keimanan berjalan lebih lambat. Para ilmuwan berargumentasi bahwa semua penelitian dilakukan dengan langkah yang dapat dipertanggungjawabkan, sebaliknya para agamawan lebih sibuk membicarakan persoalan akhirat dan pesan-pesan moral, tidak heran jika selalu terjadi benturan antara ilmu pengetahuan dan agama.
Sains dan agama merupakan dua entitas yang berbeda, namun keduanya sama-sama memiliki peranan sangat penting dalam kehidupan manusia. Sains dan islam merupakan bidang ilmu pengetahuan yang memiliki cara pandang yang berbeda dalam menyikapi kehidupan masa kini. Namun disamping perbedaan teresebut masih ada hubungan timbal-balik yang sangat dahsyat apabila diantara sains dan islam diintegrasikan dengan pola yang baik. Dengan lahirnya agama, menjadikan umat manusia memiliki iman yang menjadikan hidupnya lebih terarah, berkat agama pula telah menjadikan manusia lebih beretika, bermoral dan beradab. Sementara sains yang memberikan banyak pengetahuan kepada manusia, dengan semakin berkembangnya sains akan memajukan dunia dengan berbagai penemuan yang gemilang serta memberikan kemudahan fasilitas yang sangat menunjang keberlangsungan hidup manusia.

Agama dan ilmu sangatlah saling terkait karena orang yang banyak ilmunya apabila tanpa di topang oleh agama semua ilmu tidak akan membawa kemaslahatan umat, sebagai contoh negara- negara maju yang sangat gigih mendalami ilmu dan teknologi, tetapi sering menjadi sumber pemicu terjadinya peperangan, begitupun juga orang yang sangat sibuk dengan belajar agama ,tetapi tidak mau menggali ilmu dan pengetahuan alam disekitar kita , maka akan mengalami kemunduran , sedangkan untuk mencapai kebahgiaaan akhirat haruslah banyak berbut/beribadah dalam hal untuk kemajuaan umat, apa jadinya apabila semua umat berkutik di ritualitas saja, ini adalah suatu pertanyaan gambaran yang menyedihkan.
Seperti halnya dengan ilmu dan filsafat, agama tidak hanya untuk agama, melainkan untuk diterapkan dalam kehidupan dengan segala aspeknya. Pengetahuan dan kebenaran agama yang berisikan kepercayaan dan nilai- nilai dalam kehidupan, dapat dijadikan sumber dalam menentukan tujuan dan pandangan hidup manusia, dan sampai kepada prilaku manuisitu sendiri.
Agama berbeda dengan sains dan filsafat karena agama menekankan keterlibatan pribadi, walaupun kita dapat sepakat tidak ada definisi agama yang dapat diterima secara universal. Kemajuan spritual manusia dapat diukur dengan tinggi nilai yang tak terbatas yang ia berikan kepada objek yang ia sembah. Seorang yang religius merasakan adanya kewajiban yang tak bersyarat terhadap zat yang ia anggap sebagai sumber yang tertinggi bagi kepribadian dan kebaikan.
Wilayah ilmu berbeda dengan wilayah agama. Jangankan ilmu, akal saja tidak sanggup mengadili agama. Para ulama sekalipun, meski mereka meyakini kebenaran yang dianut tetapi tetap tidak berani mengklaim kebenaran yang dianutnya, oleh karena i-tu mereka selalu menutup pendapatnya dengan kalimat wallohu a`lamu bissawab, bahwa hanya allahlah yang lebih tahu mana yang benar. Agama berhubungan dengan tuhan, ilmu berhubungan dengan alam, agama membersihkan hati, ilmu mencerdaskan otak, agama diterima dengan iman, ilmu diterima dengan logika.
Meski demikian, dalam sejarah manusia, ilmu dan agama selalu tarik menarik dan berinteraksi satu sama lain. Terkadang antara keduanya akur, bekerjasama atau sama-sama kerja, terkadang saling menyerang dan menghakimi sebagai sesat, agama memandang ilmu sebagai sesat, ataupun sebaliknya. Namun, hubungan agama dan sains bukanlah polemik yang baru-baru saja menggulir dalam dunia keilmuwan. Konflik ini telah ada sejak beberapa abad yang lalu. Sejak pertengahan abad ke-15 agama dan sains adalah dua esensi yang sangat berbeda dan bertentangan. Bagaimana sekarang ini hubungan antara agama dan sains? Kemudian bagaimana dengan islam dalam memandang sains? Dalam makalah ini akan dijelaskan secara lebih rinci mengenai hubungan agama dengan sains, khususnya islam dalam memandang sains.

1.2           Rumusan Masalah
Masalah yang akan dibahas di makalah ini, yaitu :
1)   Apa yang dimaksud dengan agama dan sains (teknologi) ?
2)   Apa saja Ciri – ciri dan manfaat agama ataupun sains?
3)   Bagaimana Tipologi dan Paradigma hubungan antara agama dengan sains dan teknologi?
4)    Bagaimana pandangan islam mengenai sains?

1.3           Tujuan
Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini, yaitu :
1)      Untuk memahami pengertian agama dan sains (teknologi)
2)      Untuk memahami Ciri – ciri dan manfaat agama ataupun sains
3)      Untuk memahami Tipologi dan Paradigma hubungan antara agama dengan sains dan teknologi
4)      Untuk memahami Pandangan islam mengenai sains


BAB II PEMBAHASAN

2.1      Pengertian Agama dan Sains

A.        Agama

Agama, sebenarnya apa yang dimaksud dengan agama? Menurut Kamus Besar bahasa Indonesia agama merupakan Sistem atau kepercayaan kepada Tuhan, atau juga disebut juga dewa atau nama lainnya. Sebagian orang apabila ditanya tentang agama maka  jawabannya adalah pegangan hidup yang dianutnya yang memberikan kedamaian. Indonesia merupakan negara pluralitas dan salah satunya dalam hal agama. Terdapat lebih dari 5 agama atau kepercayaan yang dianut oleh masyarakat indonesia antara lain, Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha, Konghucu, serta kepercayaan masyarakak (Animisme dan Dinamisme).
Pengertian tentang agama sangatlah banyak, namun Harun Nasution mendefinisikan agama sebagai berikut:
a.         Pengakuan terhadap adanya hubungan manusia dengan kekuatan gaib yang harus dipatuhi
b.        Pengakuan terhadap adanya kekuatan gaib yang menguasai manusia.
c.         Mengikatkan diri pada suatu bentuka hidup yang mengandung pengakuan pada suatu sumber  yang berada diluar diri manusia yang mempengaruhi perbuatan-perbuatan manusia.
d.        Kepercayaan pada suatu kekuatan gaib yang menimbulkan cara hidup tertentu.
e.         Suatu sistem tingkah laku yang berasal dari kekuatan gaib.
f.         Pengakuan terhadap adanya kewajiban-kewajiban yang diyakini bersumber pada kekuatan yang gaib.
g.         Pemujaan terhadap kekuatan gaib yang timbul dari perasaan lemahdan pesrasaan takut terhadap kekuatan misteriusyang terdapat dalam alam sekitar manusia.
h.        Ajaran yang diwahyukan Tuhan kepada manusia melalui seorang Rasul.

Dapat disimpulkan, agama adalah suatu sistem kepercayaan kepada Tuhan yang dianut oleh sekelompok manusia dengan selalu mengadakan interaksi dengan-Nya. Pokok pembahasan yang dibahas dalam agama adalah eksistensi Tuhan, manusia, serta hubungan antara manusia dengan Tuhan.
Agama memang mengandung arti ikatan yang harus dipegang dan dipatuhi manusia. Ikatan ini mempunyai penagruh besar sekali terhadap kehidupan manusia sehari-hari. Ikatan itu berasal dari suatu kekuatan yang lebih tinngi dari manusia.
Aktivitas agama itu sendiri mencakup kepada: ketaatan dan kecintaan terhadap Tuhan, penerimaan wahyu yang supranatural, kepercayaan kepada jiwa, kebaktian, pemisahan antara yang sakral dengan profane pengorbanan, perasaan diosa dan menyesal serta pencarian keselamatan.
Agama tidak hanya sekedar agama, melainkan untuk diterapkan daam kehidupan dan segala aspeknya. Dalam agama, harus ada perealisasian dalam kehidupan manusia dengan mematuhi ajaran agama yang telah dianut manusia tersebut sehingga manusia yang memang benar-benar mematuhi jaran agam akan mendapatkan balasannya kelak nanti di akhirat. Pengetahuan dan kebenaran agama dapat dijadikan sumber inspirasi untuk menyusun teori-teori dalam kehidupan. Pengetahuan dan kebenaran agam a yang berisikan kepercayaan dan nilai-nilai dalamkehidupan, dapat dijadikan sumber dalam menentukan tujuan dan paradigma hidup manusia, dan sampai pada perilaku manusia itu sendiri.

a.   Ciri – Ciri Agama

Ciri-ciri agama adalah sebagai berikut:
  • Agama merupakan suatu sistem keimanan atau keyakinan terhadap sesuatu yang mutlak
  • Agama merupakan satu sistem ritual atau peribadatan atau penyembahan
  • Agama merupakan suatu sistem nilai (value system) atau sistem norma yang menjadi pola hubungan manusiawi antara sesama manusia.
  • Agama memiliki kepercayaan terhadap hal-hal yang gaib, Maha Agung, dan pencipta alam semesta (Tuhan).
  • Manusia melakukan hubungan dengan Tuhan dengan melakukan berbagai cara, seperti dengan mengadakan upacara-upacara ritual, pemujaan, pengabdian, ataupun do’a.
  • Agama memiliki suatu ajaran yang harus di jalankan oleh setiap pemeluknya.
b.   Manfaat Agama

Menurut Hocking, agama merupakan obat dari kesukaran, dan kekhawatiran yang dihadapi manusia , sekurang-kurangnya meringankan kehawatiran dari kesukaran yang dialami manusia tersebut. Agama merupakan pernyataan pengharapan manusia dalam dunia yang besar (jagat raya), karena ada jalan hidup yang benar yang perlu ditemukan.
Tujuan akhir dari agama bagi manusia adalah mengembalikan manusia kepada keadaan sebelum ia diciptakan, dan ini melibatkan upaya pencarian identitas dan nasib terakhirnya, dengan melakukan perbuatan yang benar (amal shaleh).
Kemudian bagaimana dengan Islam? Dalam bahasa Arab, perkataan "Islam" bermaksud "tunduk" atau "patuh". Jika seorang Muslim ditanya, "Apakah itu Islam?", biasanya dia akan menjawab, "Agama yang tunduk kepada Allah, satu-satu Tuhan yang benar." Tidak hanya bermakna demikian, Islam adalah agama yang diturunkan Allah yang memberikan keselamatan serta sebagai rahmat bagi seluruh alam yang diturunkan melalui Nabi Muhammad saw yang memiliki kitab suci Al-qur’an sebagai pedoman hidup.
Islam muncul dunia yang fana ini untuk memberikana solusi serta menjawab permasalahan-permasalahan hidup dialami oleh manusia. Islam bukanlah satu golongan, kepentingan kelompok tertentu ataupun kepentingan politik lainnya dan juga Islam bukanlah semata-mata untuk umat Islam itu sendiri. Lebih dari itu, Islam diturunkan oleh Allah dengan suatu visi dan misi, yaitu untuk menyebarkan kebaikan dan keselamatan serta rahmat bagi seluruh alam.
وما ارسلنك ٳلا رحمۃ للعلمين ﴿١٠٧﴾  
Dan Kami tidak mengutus ngkau ( Muhammad) melainkan unutk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam. (QS Al-Anbiya [21] : 07)
Islam tidak hanya mengatur urusan pribadi, juga bukan sekedar mengatur urusan ibadah ukhrawi. Islam telah menjadi way of  life, pandangan sekaligus pedoman hidup yang mengatur segala segi. Agama Islam menjadi alternatif yang mampu mengatur segala permasalahan hidup manusia. Al-Qur’an sebagai sumber sains dan pengetahuan spiritual. Al-Qur’an merupakan sumber intelektualitas dan spiritualitas. Ia merupakan basis bukan hanya bagi agama tetapi bagi semua jenis ilmu pengetahuan. Al-Qur’an bukan lah kitab sains tetapi ia memberikan pengetahuan tentang prinsip-prinsip sains, yang selalu dikaitkan dengan pengetahuan metafisik dan spiritual (Bakar, 1994 : 74).

B.   Sains

1.      Pengertian Sains
Kata sains berasal dari kata science, scienta, scine yang artinya mengetahui. Dalam kata lain, sains adalah logos, sendi, atau ilmu. Sains dapat diartikan sebagai ilmu pengetahuan yang bertujuan untuk mencari kebanaran berdasarkan fakta atau fenomena alam (Sudjana, 2008 : 3-4). Sains yang dipahami dalam arti sebagai pengetahuan obyektif, tersusun, dan teratur tentang tatanan alam semesta. Sains pada wilayah yang sempit atau spesifik dapat dipahami sebagai ilmu pengetahuan alam dan pada tataran yang luas dipahami sebagai sagala macam disiplin ilmu pengetahuan.
Djojosoebagio, S (1995) sebagaimana dikutip oleh Sudjana (2008 : 4) mengemukakan beberapa sifat-sifat sains antara lain ;
1.         Kumulatif, artinya dinamis atau tidak statis karena selalu mencari tambahan ilmu mengingat
kebenaran bersifat sementara.
2.         Ekonomis untuk penjelasan-penjelasan dan kaidah-kaidah yang kompleks., formulasinya sederhana, susunannya ekonomis sehingga dipakai istilah pendek, simbol dan formula.
3.         Dapat dipercaya atau diandalkan untuk meramalkan sesuatu dan lebih baik hasilnya daripada pekerjaan berdasarkan perkiraan saja.
4.         Mempunyai daya cipta tentang sesuatu
5.         Dapat diterapkan untuk menganalisis perilaku atau kejadian-kejadian alamiah.

Ciri-ciri sains menurut Melsen (1994) yang dikutip oleh Sudjana (2008 : 4-5)  dalam buku yang sama antara lain ;
1.         Secara metodis, harus mencapai suatu keseluruhan logika kolumer,
2.         Harus tanpa pamrih,
3.         Universalisme,
4.         Objektifitas,
5.         Intersubjektifitas
6.         Progresif

2.      Manfaat Sains
Dalam kehidupan manusia sians diidentikan dengan penelitian-penelitian yang memberikan manfaat yang sangat besar dalam kehidupan manusia itu sendiri. Karena dengan adanya sains membuat peradaban manusia menjadi lebih maju. Dengan munculnya teknologi membuat manusia ingin lebih mengembangkan adanya teknologi tersebut dengan mengadakan penelitian-penelitian demi kelangsungan hidup manusia yang lebih baik.


C.   Sains dan Agama

Sains dan agama, merupakan dua entitas yang sama-sama telah mewarnai sejarah
kehidupan umat manusia. Sebab, keduanya telah berperan penting dalam membangun
peradaban. Dengan lahirnya agama,tidak saja telah menjadikan umat manusia memiliki iman,tapi hal lain yang tidak bisa dipandang sebelah mata adalah terbangunnya manusia yang beretika, bermoral dan beradab yang menjadi pandangan hidup bagi manusia dalam menjalani hidup di dunia.
Sementara sains dengan puncak perkembangan yang telah dicapai, juga telah menjadikan kemajuan dunia dengan berbagai penemuanyanggemilang.Tetapi, sepanjang sejarah ke hidupan umat manusia itu pula, hubungan sains dan agama tak bisa dikata selalu harmonis. Dalam hal ini akan dibahas lebih lanjut mengenai prsamaan dan perbedaan sain dan agama.
1.       Persamaan Agama dan Sains
Antara sains dan agama tentunya terdapat persamaan-persamaan diantaranya:
v  Keduanya merupakan sumber atau wadah kebenaran (obyektifitas) atau bentuk pengetahuan.
v Sains bertujuan mencari kebenaran tentang mikrikosmos (manusia), makrokosmos (alam), dan eksistensi Tuhan atau Allah. Dan agam bertujuan untuk kebahagiaan ummat manusia di dunia akhirat dengan menunjukkan kebenaran asasi dan mutlak itu. Baik itu mengenai manusia alam maupun Tuhan atau Allah itu sendiri.


2.  Perbedaan karakteristik agama dan sains :


No
Karakteristik
Agama
Sains
1
Sumber
Akal, rasio, Ro’yu
Wahyu (Alqur’an dan Hadist)
2
Obyek
fisik, sebab-akibat, kausalitas
makna (meaning), nilai (values), moral: baik-buruk, pahala-dosa, surga-neraka
3
Pertanyaan
how (bagaimana)
why (mengapa)
4
Sifat
tertutup, menginformasikan, menjelaskan
terbuka, mengungkapkan, mereformasi
5
Karakter
metrical, terukur dg ‘angka’
non-metrical
6
Isi
logika, teoretik, kaidah, predicable à futuristic
iman, wahyu
7
Operasi
 pengalaman, empiric, instrumentatif
sami’na wa atho’na, taken for granted
8
Keterlibatan
 tidak, ‘penonton’
 terlibat, pelaku







2.2  Tipologi Hubungan Sains dan Agama

Agama dan Sains tidak selamanya berada dalam pertentangan dan ketidaksesuaian. Banyak kalangan yang berusaha mencari hubungan antara keduanya. Sekelompok orang berpendapat agama tidak mengarahkan pada jalan yang dikehendakinya dan agama juga tidak memaksakan sains untuk tunduk pada kehendaknya. Kelompok lain berpandapat bahwa sains dan agama tidak akan pernah dapat ditemukan, keduanya adalah entitas yang berbeda dan berdiri sendiri, memiliki wilayah yang terpisah baik dari segi objek formal-material, metode penelitian, kriteria kebenaran, serta peran yang dimainkan.
 
Dalam mencermati konsep sains, Bruno Guiderdoni (2004:41) mengemukakan pendapat yang disertai pula penalaran terhadap konsep agama. Dia membedakan istilah sains dan agama dalam banyak definisi.

1. Bahwa sains menjawab pertanyaan “bagaimana”, sedangkan agama menjawab pertanyaan “mengapa”.

2. Sains berurusan dengan fakta, sedangkan agama berurusan dengan nilai atau makna.

3. Sains mendekati realitas secara analisis, sedangkan agama secara sintesis.

4. Sains merupakan upaya manusia untuk memahami alam semesta yang kemudian akan mempengaruhi cara hidup kita, tetapi tidak membuat kita menjadi manusia yang lebih baik. Sedangkan agama adalah pesan yang diberikan Tuhan untuk membantu manusia mengenal Tuhan dan mempersiapkan manusia untuk menghadap Tuhan.

Oleh karena itu, Ian G. Barbour (2002:47) mencoba memetakan hubungan sains dan agama dengan membuka kemungkinan interaksi di antara keduanya. Melalui tipologi posisi perbincangan tentang hubungan sains dan agama, dia berusaha menunjukkan keberagaman posisi yang dapat diambil berkenaan dengan hubungan sains dan agama. Tipologi ini terdiri dari empat macam pandangan, yaitu:

1.Konflik

Pandangan konflik ini mengemuka pada abad ke–19, dengan tokoh-tokohnya seperti: Richard Dawkins, Francis Crick, Steven Pinker, serta Stephen Hawking. Pandangan ini menempatkan sains dan agama dalam dua ekstrim yang saling bertentangan. Bahwa sains dan agama memberikan pernyataan yang berlawanan sehingga orang harus memilih salah satu di antara keduanya. Masing-masing menghimpun penganut dengan mengambil posisi-posisi yang bersebrangan. Sains menegasikan eksistensi agama, begitu juga sebaliknya. Keduanya hanya mengakui keabsahan eksistensi masing-masing.


2.Independensi

Baik agama maupun sains dianggap mempunyai kebenaran sendiri-sendiri yang terpisah satu sama lain, sehingga bisa hidup berdampingan dengan damai. Pemisahan wilayah ini dapat berdasarkan masalah yang dikaji, domain yang dirujuk, dan metode yang digunakan. Mereka berpandangan bahwa sains berhubungan dengan fakta, dan agama mencakup nilai-nilai. Dua domain yang terpisah ini kemudian ditinjau dengan perbedaan bahasa dan fungsi masing-masing.


3.Dialog

Pandangan ini menawarkan hubungan antara sains dan agama dengan interaksi yang lebih konstruktif dari pada pandangan konflik dan independensi. Diakui bahwa antara sains dan agama terdapat kesamaan yang bisa didialogkan, bahkan bisa saling mendukung satu sama lain. Dialog yang dilakukan dalam membandingkan sains dan agama adalah menekankan kemiripan dalam prediksi metode dan konsep. Salah satu bentuk dialognya adalah dengan membandingkan metode sains dan agama yang dapat menunjukkan kesamaan dan perbedaan.



4.Integrasi

Pandangan ini melahirkan hubungan yang lebih bersahabat dari pada pendekatan dialog dengan mencari titik temu diantara sains dan agama. Bahkan pemahaman tentang dunia yang diperoleh melalui sains diharapkan dapat memperkaya pemahaman keagamaan bagi manusia yang beriman.

-       Tipologi versi John Haught (1995)

Menurut Haught, hubungan agama dan sains diawali dengan titik konflik antara agama dan sains untuk mengurangi konflik, dilakaukan pemisahan yang jelas batas-batas agama dan sains agar tampak kontras / perbedaaan keduanya. Jika batas keduanya sudah terlihat, langkah berikutnya adalah mengupayakan agar keduanya berdialog / kontak. Setelah tahap ini dapat ditemukan kesamaan tujuan yaitu mencapai pemahaman yang benar tentang alam, selanjutnya antara agama dan sains saling melengkapi / konfirmasi.


2.3           Paradigma Hubungan Agama dengan Sains dan Teknologi

Secara garis besar, berdasarkan tinjauan ideologi yang mendasari hubungan antara Agama dan Teknologi, terdapat 3 (tiga) jenis paradigma.
1)   paradagima sekuler, yaitu paradigma yang memandang agama dan IPTEK adalah terpisah satu sama lain. Sebab, dalam ideologi sekularisme Barat, agama telah dipisahkan dari kehidupan (fashl al-din an al-hayah). Agama tidak dinafikan eksistensinya, tapi hanya dibatasi perannya dalam hubungan pribadi manusia dengan Tuhannya. Agama tidak mengatur kehidupan umum/ publik. Paradigma ini memandang agama dan IPTEK tidak bisa mencampuri dan mengintervensi yang lainnya. Agama dan IPTEK sama sekali terpisah baik secara ontologis (berkaitan dengan pengertian atau hakikat sesuatu hal), epistemologis (berkaitan dengan cara memperoleh pengetahuan), dan aksiologis (berkaitan dengan cara menerapkan pengetahuan).
2)   Paradigma sosialis, yaitu paradigma dari ideologi sosialisme yang menafikan eksistensi agama sama sekali. Agama itu tidak ada, tidak ada hubungan dan kaitan apa pun dengan IPTEK. IPTEK bisa berjalan secara independen dan lepas secara total dari agama. Paradigma ini mirip dengan paradigma sekuler di atas, tapi lebih ekstrem. Dalam paradigma sekuler, agama berfungsi secara sekularistik, yaitu tidak dinafikan keberadaannya, tapi hanya dibatasi perannya dalam hubungan vertikal manusia-Tuhan. Sedang dalam paradigma sosialis, agama dipandang secara ateistik, yaitu dianggap tidak ada (in-exist) dan dibuang sama sekali dari kehidupan. Berdasarkan paradigma sosialis ini, maka agama tidak ada sangkut pautnya sama sekali dengan IPTEK. Seluruh bangunan ilmu pengetahuan dalam paradigma sosialis didasarkan pada ide dasar materialisme, khususnya Materialisme Dialektis (Yahya Farghal, 1994:112). Paham Materialisme Dialektis adalah paham yang memandang adanya keseluruhan proses perubahan yang terjadi terus menerus melalui proses dialektika, yaitu melalui pertentangan-pertentangan yang ada pada materi yang sudah mengandung benih perkembanganitu sendiri.
3)   Paradigma Islam, yaitu paradigma yang memandang bahwa agama adalah dasar dan pengatur kehidupan. Aqidah Islam menjadi basis dari segala ilmu pengetahuan. Aqidah Islam yang terwujud dalam apa-apa yang ada dalam Al-Qur`an dan Al-Hadits menjadi qaidah fikriyah (landasan pemikiran), yaitu suatu asas yang di atasnya dibangun seluruh bangunan pemikiran dan ilmu pengetahuan manusia. Paradigma ini memerintahkan manusia untuk membangun segala pemikirannya berdasarkan Aqidah Islam, bukan lepas dari aqidah itu.
Dengan jelas kita tahu bahwa Rasulullah SAW telah meletakkan Aqidah Islam sebagai dasar ilmu pengetahuan, sebab beliau menjelaskan, bahwa fenomena alam adalah tanda keberadaan dan kekuasaan Allah, tidak ada hubungannya dengan nasib seseorang. Hal ini sesuai dengan aqidah muslim yang tertera dalam Al-Qur`an (artinya): “Sesungguhnya dalam penciptaan
langit dan bumi dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang berakal”. (QS Ali Imran [3]: 190). Inilah paradigma Islam yang menjadikan Aqidah Islam sebagai dasar segala pengetahuan seorang muslim. Paradigma inilah yang telah mencetak muslim-muslim yang taat dan shaleh tapi sekaligus cerdas dalam IPTEK. Itulah hasil dan prestasi cemerlang dari paradigma Islam ini yang dapat dilihat pada masa kejayaan IPTEK Dunia Islam antara tahun 700- 1400 M. Pada masa inilah dikenal nama Jabir bin Hayyan (721 M) sebagai ahli kimia termasyhur, Al-Khawarzmi  (780 M) sebagai ahli matematika dan astronomi, Al-Battani (858 M) sebagai ahli astronomi dan matematika, Al-Razi (884 M) sebagai pakar kedokteran, ophtalmologi, dan kimia, Tsabit bin Qurrah (908 M) sebagai ahli kedokteran dan teknik, dan masih banyak lagi

2.4           Pandangan Islam Mengenai Sains

Islam adalah agama yang sangat menganjurkan umatnya untuk mengerahkan segala kemampuannya dalam menggunakan akalnya serta memikirkan segala apa yang ada di alam semesta ini.  Hal ini sebagaimana tercantum dalam ayat Al-Qur’an surat Ar-Rahman ayat 33 yang artinya “Hai jama'ah jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, Maka lintasilah, kamu tidak dapat menembusnya kecuali dengan kekuatan”. Dalam ayat tersebut Allah saw memberikan kesempatan kepada manusia untuk melakukan pemikiran (menggunakan aklnya) dan eksplorasi terhadap alam semesta. Upaya penaklukan ruang angkasa harus dilihat sebagai suatu ibadah manusia yang ditujukan selain untuk memahami rahasia alam, juga demi masa depan kehidupan manusia.
Menurut Muhammad Ismail sebagaimana dikutip oleh Sudjana (2008 : 12) mengatakan bahwa pemahaman Islam tidak lain adalah pemikiran-pemikiran yang memiliki penunjukan-penunjukan nyata, yang dapat ditangkap dengan logika selama masih dalam batas jangkauan akalnya. Namun, bila hal-hal tersebut berada diluar jangkauan akalnya, maka hal itu ditunjukan secara pasti oleh sesuatu yang dapat diindera, tanpa rasa keraguan sedikitpun. Dengan demikian peranan akal bagi manusia sangatlah penting dan mendasar karena dengan akalnya ia dapat menentukan yang terbaik bagi dunia dan akhirantnya kelak.
Rasulullah saw pernah mengatakan bahwa tidak ada agama (Islam) tanpa adanya aktifitas akal. Artinya bagi seorang muslim, keyakinannya tentang Islam haruslah dibangun berdasarkan akal sehat dan penalarannya. Bukan hanya sekedar dogma yang dipaksakan atau informasi-informasi tanpa kenyataan. Akan tetapi, akal harus difungsikan sebagaimana mestinya (Sudjana, 2008 : 13).

2.5    Agama dan Sains Sebagai Kebutuhan Manusia
            Dalam pandangan positivisme atau materialisme, jika sains dan teknologi sudah maju, maka masyarakat tidak membutuhkan agama lagi sebab semua kebutuhan dan keinginan mereka sudah terpenuhi oleh sains dan tekhnilogi. Sepintas pernyataan tersebut ada benarnya, tetapi jika di renungkan lebih dalam timbul persoalan. Kemajuan sains dan tekhnologi dalam satu abad terakhir ini memang terasa sangat pesat. Boleh di katakana bahwa 99% dari penduduk dunia sekarang telah menggunakan tekhnologi modern. Mingkin hanya sebagian suku-suku terasing saja yang tidak menggunakan tekhnologi modern.      
            Sains dan tekhnologi adalah daya akal manusia dan sekaligus kebutuhannya. Namun, kalau manusia tenggelam dalam struktur sains dan tekhnologi, berarti eksistensinya sebagai manusia bisa hilang. Jiwa manusia memiliki dua daya yaitu daya akal dan daya hati. Daya akal di gunakan untuk mencapai ilmu pengetahuan dan menemukan hal-hal yang baru. Sifat akal progresif dan cinta pada ilmu. Daya berpikir adalah sifat yang paling penting bagi akal.
            Pada dasarnya manusia ingin kebutuhan materinya cukup dan juga merasa sangat puas dan bahagia dengan kecukupan itu. Agama mengajarkan pemeluknya agar selalu bersyukur atas apa yang di terimanya sebab Tuhan itu maha pemurah dan bikjaksana. Manusia terdiri atas dua unsur, yaitu jasmani dan rohani, secara otomatis kedua unsur itu memiliki kebutuhan-kebutuhan tersendiri. Kebutuhan jasmani di penuhi oleh sains dan tekhnologi, sedangkan kebutuhan rohani di penuhi oleh agama dan moralitas. Apabila dua macam itu terpenuhi , menurut agama, dia akan bahagia di dunia dan di akhirat.








BAB III
PENUTUP


3.1 Kesimpulan

·      Agama adalah suatu sistem kepercayaan yang datangnya dari Tuhan harus diterima dengan keyakinan, kebenaran disini akan menjadi rujukan bagi kebenaran-kebenaran yang lain.
·      Agama dan ilmu sangatlah saling terkait karena orang yang banyak ilmunya apabila tanpa di topang oleh agama semua ilmu tidak akan membawa kemaslahatan umat
·      Sains dapat diartikan sebagai ilmu pengetahuan yang bertujuan untuk mencari kebanaran berdasarkan fakta atau fenomena alam.
·      Sains dan agama merupakan dua entitas yang berbeda, namun keduanya sama-sama memiliki peranan sangat penting dalam kehidupan manusia
·       Agama dan Sains tidak selamanya berada dalam pertentangan dan ketidaksesuaian. Banyak ilmuwan yang berusaha mencari hubungan antara keduanya.
·      Ian G. Barbour mencoba memetakan hubungan sains dan agama melalui Tipologi Sains dan agama. Tipologi ini terdiri dari empat macam pandangan, yaitu: Konflik, Independensi, Dialog, dan Integrasi.
·      John Haught juga ikut memetakan hubungan sains dan agama. Tipologinya terdiri dari empat macam pandangan yaitu : konflik, kontras, kontak dan konfirmasi.
·      Islam adalah agama yang sangat menganjurkan umatnya untuk mengerahkan segala kemampuannya dalam menggunakan akalnya serta memikirkan segala apa yang ada di alam semesta ini.
·       Al-Qur’an bukanlah kitab sains, tetapi segala pengetahuan tentang sains hendaknya dirujukkan kedalam Al-Qur’an. Al-Qur’an secara eksplisit telah menerangkan tentang segala apa yang ada dan terjadi dibumi ini dan dengan sains lah kita membuktikannya

3.2 Referensi (Sumber)











0 komentar:

Posting Komentar